Kicauan burung, derai aliran sungai dan suara ayam berkokok membucahkan perpaduan suara yang harmonis. Tatkala sang fajar menyembulkan sinarnya, aku terbangun. Bertanda ini sudah hari ke-4 di Negara Api. Tidak terasa ya, waktu kebersamaan ini hanyalah tinggal satu setengah hari saja. Tapi tak apa, tetap harus semangat dan jangan lupa untuk bahagia.

Pagi itu kami bangun lebih awal dari biasanya guna mematangkan persiapan aksi cinta kami kepada Pak Presiden, mulai dari berbagai atribut yang dibutuhkan baik untuk bahan Koran Voice of Api hingga bahan untuk aksi nanti pun turut dipersiapkan. Setelah semua sudah dapat dipastikan clear, kami hanya menunggu waktu eksekusi. Pada saat sarapan di ruang makan, kami bertingkah normal seakan tak terjadi apapun dan tak memiliki niat apapun. Semua berjalan seperti biasa, hingga akhirnya Pak Presiden datang untuk sarapan. Dan tidak lama kami pamit untuk kembali ke kamar masing-masing. Setelah itu, kami kembali lagi ke ruang makan dan berjalan bersisian lengkap dengan atribut yang sudah dipersiapkan. Kami menghampiri meja makan Pak Presiden dan mengitarinya. Kami bernyanyi, membaca puisi, dan membacakan tuntutan yang kami rasa perlu demi keadilan dan kesejahteraan Warga Negara Api. Bukan, kami bukan demo dengan anarkis. Tetapi unjuk rasa ini kami kemas dengan seni, agar tetap terlihat cantik dan karena ini juga merupakan aksi cinta kami kepada Presiden. Pak Presiden hanya bisa tersenyum, kamudian mengeluarkan pendapatnya mengenai aksi kami disusul oleh keputusannya untuk menghapuskan 3 buah pajak yaitu pajak pangan, pajak pembangunan dan pajak pendidikan. Kami berhasil, bahkan dengan keputusan yang melampaui permintaan kami. Terimakasih Pak Presiden.

Setelah itu, kami kembali ke ruang pertemuan. Akan ada simulasi action plan yang sudah dipersiapkan oleh per kotanya masing-masing. Kota Widjie mendapat urutan pertama, mereka tampil apik dengan tema talkshow di Radio membahas tentang pentingnya aksesi FCTC. Kemudian Kota Marsinah urutan selanjutnya, mereka mengemas simulasi dengan audiensi bersama Walikota. Mengusung tema tanpa perda KTR tidak ada KLA. Audiensi tersebut dihadiri oleh perwakilan dari Pembaharu Muda, Forum Anak, 9 cm, dokter dan lain-lain. Selanjutnya kesempatan bagi Kota Munir, mereka mengemas simulasi dalam sebuah pers conference yang bertemakan bagaimana beasiswa dari perusahaan rokok ini merajalela dikalangan sekolah. Berbagai media diundang, narasumber yang berkompeten dalam bidangnya pun juga diundang. Pers conference ini berlangsung lumayan lama dan seru sekali perbincangannya, ketika beberapa diantara mereka salah satunya kepala dinas pendidikan masih belum paham dan justru mendukung beasiswa tersebut yang lainnya mencoba untuk meyakini bahwa pasti ada udang dibalik batu. Ditambah wartawan yang pro dan kontra membuat kepala dinas pendidikan bingung untuk berbuat apa, sementara menurutnya beasiswa itu penting. Tetapi pintu hati kepala dinas terketuk dengan fakta yang telah diungkapkan dan dengan alternatif yang telah ditawarkan bahwa tidak hanya perusahaan rokok yang memberi beasiswa, dan hal itupun bahkan bukan menjadi kewajiban mereka seharusnya berbeda dengan perusahaan yang harus memberikan CSR dikarenakan bisa saja merusak alam yang kemudian dengan CSR tersebut dapat diperbaiki keadaannya. Akhirnya kepala dinas akan mempertimbangkan kembali untuk hal ini. Kemudian tampilan terakhir, dari Kota Gie. Ini adalah kotaku, kami menampilkan sebuah mini drama yang kami beri nama theatrical demonstration menceritakan betapa banyak iklan rokok yang bertebaran dilingkungan sekolah, bahkan mencapai 85% sekolah yang sudah terpapar iklan rokok. Kemudian para gerakan muda FCTC yang miris akan hal ini, mengedukasi kepada para siswa untuk kemudian diajak untuk membuat sebuah aksi. Para siswa pun setuju, mereka sadar hal itu dapat berdampak buruk bagi mereka. Kemudian mereka mengirim surat advokasi kepada Walikota, namun hingga hari ke-100 tak kunjung datang surat balasan itu. Kemudian mereka membuat petisi agar mendapati ijin mencabut iklan rokok itu sendiri, akhirnya setelah mendapat 50% plus satu suara. Para siswa ditemani oleh gerakan muda FCTC dan fasilitator mencabut iklan-iklan rokok yang ada dilingkungan sekitar sekolah dan menggantikannya dengan iklan yang menyatakan hidup akan lebih baik tanpa rokok. Kemudian aksi kami diliput oleh media, dan walikota yang melihat berita ini sangat geram. Kami mendapat panggilan untuk menghadap melalui surat terbuka, dengan semangat kami datang dan terjadilah debat kusir yang cukup alot sampai pada akhirnya Walikota menyetujui penghapusan iklan rokok dilingkungan sekitar sekolah.

Seru bukan? Kali ini bukan lagi tentang kami yang selalu diberi kejutan, tetapi kami juga bisa memberi kejutan.

Setelah itu kami istirahat sejenak, lalu melanjutkan sesi selanjutnya yaitu pembuatan action plan per orang yang berlandaskan dengan konsep SMART (Specific – Measurable – Achievable – Realistic – Time-Bound) untuk kemudian direalisasikan pada saat pulang nanti. Kami diberi keluwesan untuk memilih tempat yang paling nyaman dan diberikan waktu yang cukup panjang karena ini bukanlah hal yang main-main dan perlu perancangan yang cukup matang. Kami juga banyak bertanya kepada fasilitator, meminta pendapat dan berdiskusi mengenai apa yang hendak kami lakukan nanti. Hingga tiba pada waktu sholat dzuhur dan jam makan siang, sebagian dari kami rehat sejenak namun ada juga yang sudah selesai. Kemudian setelah semuanya dipastikan selesai menyusun action plan tersebut, kami diminta untuk kembali ke ruang pertemuan kemudian bersiap untuk mempresentasikan action plan yang sudah dibuat. Action plan yang kami buat ini kemudian direkap bersamaan dengan aksi nasional yang kami buat bersama kedalam sebuah kertas yang telah ditanda tangani sebagai bukti komitmen kami dan kemudian dimasukkan kedalam sebuah kapsul waktu. Dalam kurun waktu satu tahun, kapsul waktu ini akan mengitari Indonesia. Dimulai dari kota Bogor, Banten, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Makassar, Mataram, Bali, Bekasi dan akan berakhir di Jakarta.

Ini bukan sekedar mimpi atau harapan, tetapi juga tanggung jawab terhadap komitmen dan konsistensi atas kepedulian kami pada Indonesia yang tercinta.

Kemudian setelah itu kami kembali rehat sejenak, sekedar menikmati hidangan coffee break yang telah disediakan, solat ashar, dan lain-lain. Lalu setelah itu dilanjutkan dengan sebuah presentasi mengenai LAI (Lentera Anak Indonesia) Support System, apa yang dapat difasilitasi oleh LAI dari action plan yang sudah dibuat, bagaimana sistem pendukungan dari pihak LAI dan lain sebagainya dibahas oleh Bunda Lisda selaku ketua LAI. Setelah itu kami berdiskusi dalam sesi Tanya jawab.

Usai presentasi, yudikatif mengambil alih acara selanjutnya. Ya, evaluasi C3PO. Kemudian yudikatif mengundang Pak Presiden agar dapat hadir dan memberikan pesannya kepada kami. Pak Presiden menyadarkan kami, di dunia ini ada hak yang dimiliki setiap orang sejak lahir namun ada tanggung jawab dan kewajiban sebagai penyeimbangnya. Ketika kita menuntut hak jangan sampe kita mengambil hak orang lain juga, itu tidak bertanggung jawab. Dan ketika kita menuntut hak tetap harus memperhatikan kewajiban yang juga kita miliki, karena jika tidak seimbang maka semua akan kacau. Ya, beliau memang sosok yang sedikit menyebalkan namun bisa juga beliau nantinya akan menjadi sosok yang paling dirindukan di Negara Api. Selanjutnya yudikatif meminta kami untuk memegang masing-masing totem yang telah diberikan sejak hari pertama. Inilah saat untuk menjawab rasa penasaran kami, dan ternyata isi dari totem tersebut adalah potongan-potongan gambar dari sebuah deklarasi pembaharu muda yang tertera foto dari masing-masing wajah kami. Tentu tidak semudah memasang puzzle, ingat ini di Negara Api, negara yang penuh akan kejutan. Penyusunan totem ini cukup menguras banyak token yang kami miliki. Kami memersatukan token yang kami miliki, hingga totem sudah benar-benar selesai butuh pengorbanan bahkan kami semua rela menjual masing-masing satu life pointnya karena kehabisan token. Tapi inilah yang menjadikan kami kuat menghadapi apapun, karena kami bersama, karena kami adalah satu.

Setelah itu ada sesi pembacaan deklarasi, sesi yang mengharukan bagiku. Merinding, betapa beraninya kami membuat komitmen yang cukup berat namun terasa ringan jika bersama. Kami bukan akan menghadapi kerikil, bukan hanya akan mengarungi samudera tetapi lebih dari sekedar itu. Namun sejak awal kedatangan kami, sejak pertama menginjakkan kaki di Negara Api ini, kami siap berjuang demi Indonesia. Apapun yang akan terjadi, akan kami hadapi karena kami adalah pembaharu muda.

Kemudian kami bersitirahat dan dipersilahkan bersiap-siap untuk awarding night. Lagi, lagi dan lagi… kejutan. Seakan tak pernah lelah menyapa, tak pernah bosan menghujam. Kami dibawa ke Negara Api bagian bawah dekat dengan kolam renang. Kalian tahu? Kami disambut dengan dekorasi yang luar biasa cantik, romantis dan apalah itu aku tak sanggup menggoreskannya karena lebih dari menakjubkan malam ini. Setelah diguyur hujan yang cukup deras membuat beberapa sudut terlihat basah dan memiliki genangan, namun sama sekali tidak mengurangi keindahan apa yang ada disana. Acara demi acara kami nikmati bersama, mulai dari pembubaran Negara Api, hiburan dari masing-masing kota, penghargaan untuk Walikota, Legislatif dan Warga Negara yang terbaik dari yang terbaik, penghargaan untuk beberapa kategori yang sudah dipersiapkan, pemutaran film pendek mengenai kegiatan kami selama disini, tukeran kado, hingga peresmian kapsul waktu. Tidak hanya itu, kami juga menuliskan notes untuk teman-teman dan kemudian dimasukan kedalam wadah yang sudah tertera nama peserta juga panitia.

Hari semakin larut, namun kami tak surut. Ini malam terakhir kami untuk bersama, besok kami sudah harus kembali untuk memperjuangkan mimpi bersama. Mimpi yang menjadi impian. Ini bukan akhir, namun ini adalah titik awal dari alasan mengapa kita berkumpul disini. Tetap semangat kawan, jangan pernah menyerah. Teruslah berlari di padang rumput yang luas. Tetaplah mendaki gunung tertinggi. Hingga tiba diujung pelangi. Puncak impian. Aku pasti merindukan kebersamaan ini, kesempatan ini, karena aku telah mengukir gambaran semua kisah singkat kita di relung hati yang paling dalam ini.

Keep fighting ‘till the end of time and never give up!

Mulyani Pratiwi SW